Don't Love Me Chapter 2



Cast : 
.

Park Jimin
Kim Seok Jin
Kim Taehyung
Kim Namjoon
Jung Hoseok
Min Yoongi
Jeon Joon Kook

.Lagu pendukung :
Wendy & Seulgi - I Can Only See You
Hyolyn - Become Each Others Tears
BolBBalgan4 - Dream
Kim Ju Na - Divine Intervention


“Jimin-ah, aku harap kau segera baik-baik saja. dan aku harap kau tidak menjauhiku besok” pesannya pada Jimin yang telah pergi. Wajah Taehyung termenung diam. Ia yakin Jimin tidak mendengarkan pesannya.  Hari ini Ia gagal untuk pulang bersama dengan Jimin, mungkin lain kali Ia bisa mengajak Jimin pulang bersama.


*****

[ 09:25 PM ]

Usai mandi malam Jimin menyiapkan diri untuk belajar.  Ia tidak sengaja mengingat hari yang cukup melelahkan bagi pertemuannya dengan seseorang. Pertama dan mungkin jadi yang terakhir mendapatkan sikap kasar namja yang tidak Ia kenal. Setidaknya Ia mengenal sosok yang begitu baik di kelas. Buku pelajaran yang terbuka kini diabaikan Jimin  melamun. Kegiatan bersama Taehyung di atas atap hari ini memberikan kesan yang aneh. Seperti Ia bersama seseorang yang  dirindukan saat masih berada di Busan.

Jimin membuka dompet, mengambil selembar foto yang tersimpan didalam. Ingin Ia kembali ke masa lalu dan mengembalikan keadaan sebelum meninggalkan kota kelahiran itu. “Jeon Joon kook” bisiknya pelan. Ia mengambil ponsel, mencari sebuah contact nama Jungkook yang ingin dihubungi. Namun nomor itu tidak lah aktif lagi. Jimin menghela nafas. Seakan semuanya telah pasrah Ia jalani. “kau tau Jungkook-ah, aku bertemu dengan seseorang yang baik sepertimu disini. Menerimaku dan memberikan perhatian lebih sebagai seorang sahabat. Tatapannya juga begitu tajam sama sepertimu, aku sempat kaget dan menjauhi dia saat pulang tadi. Aku harap Ia tidak membenciku besok” lanjut Jimin. Ia mengembalikan kesadaran untuk tidak melamun lagi. Sudah cukup Ia memikirkan seseorang. Fokus pun kembali kepada buku pelajaran yang sebelumnya Ia tinggalkan.


.
[ Keesokan ]
Alarm pagi berbunyi membangunkan Jimin yang masih terlelap. Pagi ini, Ia ingin memulai dengan lebih baik dibandingkan hari pertama. Menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah dengan perasaan ceria. Mengayuh sepeda dengan santai, menikmati udara pagi Korea tanpa polusi.

Ketika lampu merah, Taehyung yang berada di dalam mobil menangkap kebahagiaan wajah Jimin. Sangat manis dan mungkin Ia akan terkena sakit Obesitas bila terus lama memperhatikan. Mata yang begitu Taehyung sukai, ingin sekali dimiliki. Tidak sadar Taehyung menimbulkan senyuman kecil. Namjoon yang berada di samping mencari pandangan yang Taehyung lihat sedari tadi. Ia ikut tersenyum memperhatikan betapa lucu sikap Jimin kala itu. “apa kau memperhatikan namja manis itu?” pertanyaan yang langsung Taehyung yakini mengarah kepadanya.

“apa yang hyung katakan?” Taehyung menyembunyikan wajah yang telah lebih dulu diketahui oleh Namjoon. Perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta kini Taehyung rasakan.

“aku mengenalmu sejak kecil Kim Taehyung, aku bukanlah seseorang yang mudah kau bohongi” goda Namjoon lagi.

“hyung.. berhentilah menggodaku”

Lampu merah berubah menjadi hijau, mobil Taehyung bergerak. Mendahului sepeda Jimin begitu saja. Pikiran Taehyung mengingat akan perjodohan yang dialami Jimin terhadap Jin. wajah taehyung yang senang berubah menjadi cemas. Apalagi kesan pertama yang Jimin berikan kepada Jin tidaklah beruntung. Sebisa mungkin Taehyung harus bisa melindungi Jimin dari tindakan kasar Jin.

Sampai pada sekolah, Taehyung keluar tetapi tidak langsung ke kelas. Menunggu Jimin di depan gerbang karena Ia yakin Jimin tidak akan lama lagi datang.  Suara bel sepeda terdengar dan Jimin menyapa Taehyung. “Anyeong Taehyungie, kau tidak masuk kekelas?” ucap Jimin bingung.

“aku menunggumu”

“menungguku?” perasaan aneh Jimin terasa lagi, tapi langsung ditepis. Ia tidak ingin membuat keanehannya menjauhkan pertemenan mereka. “kalau begitu ayo kita ke kelas bersama, tapi aku parkirkan sepeda ku dulu” saat Jimin akan mengayuh, klakson mobil mengagetkannya. Menyebabkan tubuh mungil itu jatuh pada pelukan Taehyung. Mereka saling menatap satu dengan yang lain. Tanpa berkedip, tanpa menghitung seberapa banyak jantung Jimin berdetak. Ini perasaan yang Ia rasakan seharusnya hanya kepada Jungkook. Kekasihnya di Busan. “gwenchana?” tanya Taehyung khawatir.

Jimin membenarkan posisinya, dan pergi kearah mobil yang menyebabkan insiden tersebut. “YAK! Bisakah kau tidak memberikan klakson mendadak!? Hampir saja aku dan teman ku terkena serangan jantung karena ulahmu—” belum selesai amarah itu diucapkan. Jimin langsung membalikan badan ketika kaca mobil terbuka. “apa kau sudah lupa dengan janjimu? Untuk tidak muncul dihadapanku” sindir namja asing itu.

“maafkan aku” Jimin mengambil sepeda, lalu pergi. Taehyung menatap hal itu sedikit  sedih. Klakson itu kembali terdengar, “sedang apa kau disini taetae.. masuk ke kelas” perintah Jin. Dan mobil itu pergi meninggalkan Taehyung tanpa kata-kata lagi. Pintu gerbang pun tertutup.

.

Jimin dan Taehyung mendengarkan Seonsaengnim menjelaskan di depan kelas. Mencatat setiap materi yang di berikan untuk masuk ke Agency terbaik di Seoul. Menjadi penyanyi dan penari international merupakan cita-cita Jimin sejak kecil. Dan menjadi bagian dari sekolah Bangtan Rekomendasi halbeojinya adalah yang terbaik. Tapi entah kenapa semenjak bertemu dengan namja menyebalkan itu hati Jimin terus gelisah. Taehyung tentu mengetahui gelagat itu dengan cepat. “ada yang ingin bertanya? Jika tidak ada maka kita akhiri sampai disini” kalimat terakhir penutup pelajaran sebelum istirahat. Setelah seonsaengnim keluar kelas, Taehyung mulai mendekati Jimin. “apa kau membawa bekal lagi?”

“Nde, Aku masak nasi goreng kali ini tetapi tidak banyak. Setidaknya akan cukup untuk kita berdua” Jimin membuka kotak makan siang, beberapa teman kelas memandang sinis. “bau apa ini?” sindir salah satu yeoja. “Aigoo.. bau yang tidak enak, sebaiknya aku keluar” timpal teman yang lain. Salah satu namja mencoba mengajak Taehyung pergi ke kantin meninggalkan Jimin. Dengan tegas Taehyung menolak dan meminta seluruh teman pergi keluar jika tidak menyukai bau makanan yang Jimin bawa.

Taehyung menatap wajah Jimin yang tidak masalah dengan perkataan teman-temannya yang mungkin menyakitkan. “kau tenang saja Taehyungie, aku sudah sangat kebal dengan setiap kata-kata orang seperti itu. Di sekolahku dulu juga sama, jadi mungkin aku tidak akan memikirkan hal itu lagi. Awalnya sih sempat shock mendapatkan perlakuan yang sama. Tetapi hanya sebentar sakit hati itu kurasakan” Jimin mulai memakan santapan siang. Tidak mau kalah Taehyung ikut mengambil bagian pada masakan Jimin yang Ia sukai. Mereka tertawa bersama di kelas.

Namjoon yang tadinya ingin mengajak Taehyung ke kantin mengurungkan niat. Melihat dongsaengnya itu mulai terbuka dengan seseorang, tidak akan Ia halangi. Apalagi pada seseorang yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga Kim. Ia pun meninggalkan kelas Taehyung, pergi menuju kantin sendirian.

.
[ Istirahat ]

Jin pergi ke halaman belakang sekolah bersama dengan seorang yeoja berparas cantik. Kebanyakan gosip mengatakan bahwa yeoja ini memiliki hubungan sepcial dengan pewaris pertama perusahaan Kim. Walaupun Jin tidak mengatakan kebenarannya seperti apa, yang pasti hanya mereka yang mengetahui tentang hubungan seperti apa yang mereka jalani. “aku tidak terima kau dijodohkan Jin-sshi, apalagi dengan seorang namja! kau tidak ingat kalau setiap tahun kita menjadi King&Queen sekolah kita. Dan rumor itu sangat kuat mengatakan kalau kita kekasih, aku menentang perjodohanmu. Aku yakin kau memiliki perasaan yang sama denganku. Dan tuan Kim benar-benar sudah gila mendorong cucunya kejalan tidak benar!” ucap yeoja bernama Kim SoJung.

“aku juga ingin menentang tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa” lelah Jin membahas hal yang Ia malas bicarakan. “Jin-sshi kau bisa membawaku dan mengatakan kepada halbeoji kalau kau memilikiku. Dengan begitu kau bisa lolos dari perjodohan gila ini” balas Sojung.

“itu tidak akan berhasil. aku sudah melakukan semua cara, keinginan halbeojiku terlalu kuat!”

Sojung mendekatkan tubuhnya pada tubuh Jin, “kau mencintaiku kan? Kalau begitu hamili aku.” Perkataan yang tidak pernah bisa Jin bayangkan keluar dari mulut seorang yeoja. “kalau aku hamil, perjodohan sesama namja tidak akan berlangsung. Karena kau akan menikah denganku”

“Sojung-ah?”

tangan Sojung membelai lembut wajah Jin, tanpa memberikan aba-aba bibir mereka dipertemukan. Dengan mengemut-emut pelan berharap Jin dapat membalas perlakuan lidahnya. Namun ternyata Jin malah menghentikan kegiatan tidak wajar mereka di sekolah. “Jin-sshi” aneh Sojung.

“aku tidak bisa” Jin pergi dari halaman belakang. Membiarkan Sojung sendirian menatap pundak besar itu meninggalkannya. Jin berjalan ke arah kantin sekolah dan duduk di meja tempat Namjoon menyantap makan siang. Raut tidak menyenangkan diberikan Jin pada Namjoon yang hampir saja menghabiskan makanannya. “wae hyung?” tanya Namjoon datar.

“Ani” singkat Jin. merasa ada yang berbeda Jin langsung menanyakan keberadaan Taehyung jam istirahat seperti ini. “Taetae?”

“dia makan siang bersama teman baru di kelasnya” Namjoon mekanjutkan makan siang. “hyung apa kau habis bersenang-senang dengan seorang yeoaj di sekolah?” lanjut Namjoon bertanya pada Jin.

“Ani. Wae?”

“ada bekas lipstick di bibirmu”

mendengar itu Jin merasa malu dan pergi berlari ke kamar mandi terdekat. Ia membasuh wajah berusaha menghilangkan bekas lipstick yang diciptakan Sojung beberapa waktu lalu. Mencari tisu yang ternyata telah habis dari kotak. Bagaimana Ia mengeringkan wajah? Sebuah sapu tangan diberikan pada Jin. seseorang yang tidak menghadap kearah Jin, dan dapat ditebak namja pembawa sial itu mencoba menolong. “aku tidak butuh” Ucap Jin mengacuhkan bantuan Jimin.

“Ish. Padahal aku berniat baik pada namja menyebalkan itu” dengus Jimin kesal. Sekembalinya ke kelas, Taehyung terlihat bosan menunggu. “lama sekali kau ketoilet Jiminnie, padahal jarak dari kelas dekat”

“aku ketoilet lantai dasar dekat kantin, toilet lantai kita sedang diperbaiki” balas Jimin. Taehyung mengangguk-angguk mengerti, dan lanjut mengobrol dengan Jimin. “sampai mana tadi pembicaraan kita?” Lupa Jimin.

*****

[ 13:00 PM ]

pelajaran di sekolah pun berakhir. Seluruh murid berhamburan keluar sama seperti kelas Jimin dan Taehyung. Setelah siap merapihkan buku-buku kedalam tas, Taehyung langsung meminta Jimin untuk pulang bersama. “apa kau tidak dijemput?” pertanyaan itu mendapatkan jawaban bohong dari Taehyung.

“Nde. Hari ini supir ku sedang tidak bisa mengantarku pulang, boleh kan aku ikut denganmu naik sepeda?” mohon dengan wajah memelas ala Kim Taehyung. Jimin sendiri tidak tau bagaimana Ia harus menolak. Dengan terpaksa Jimin mengizinkan Taehyung pulang dengan sepedanya. Sampai tiba di parkir Jimin menyuruh Taehyung untuk berdiri dibelakang. Ia belum pernah melakukan hal ini. Keseimbangan Taehyung tidak dapat bertahan lama berdiri dibelakang. “apa kau tidak pernah menaiki sepeda?” tanya Jimin tidak percaya.

“aku pernah naik sepeda saat usiaku 3 tahun” balas Taehyung dengan menggarukan tengkuk yang tidak gatal.

“peganganlah dengan pundakku” jelas Jimin.

Taehyung pun mengikuti perintah Jimin berdiri dengan memegang pundak kecilnya. Ia tidak percaya bahwa pundak Jimin terlalu kecil untuk ukuran seorang namja normal. “berapa ukuran bahumu? Aku perhatikan kecil sekali” Taehyung tidak sadar mengatakan hal yang menyinggung.

“Yak! Turun!”

“aku hanya bercanda Jiminnie”

Jimin mengayuh sepeda dengan sempoyongan karena beban berat Taehyung yang masih tidak seimbang. Di lain tempat Jin keluar bersama teman-teman, termasuk Kim Sojung turut serta. Saling berpamitan untuk pulang kerumah masing-masing. Dan tepatnya mata tajam Jin menangkap sosok yang  Ia kenali sebagai dongsaeng ketiganya sedang menaiki sebuah sepeda. “Taehyung?” Ia ingin mengejar tetapi sebuah panggilan dari Kim Hanshin mengurungkan niatnya. “yeoboseyo?”

“dimana kau?”

“aku? Baru pulang sekolah halbeoji. Wae?”

“temui aku dikediaman tanpa bermain dengan temanmu siang ini. Aku tunggu”

Nada terputuspun terdengar sebelum Jin sempat melaporkan sesuatu kepada namja tua yang telah mengubah hidupnya menjadi gila. “Nde? Halbeoji? Yeoboseyo?! Aisshhh!”.

Jimin memberhentikan sepeda tepat di sebuah taman sesuai permintaan Taehyung. Ia tidak mengerti dengan keinginan Taehyung yang tiba-tiba. Menarik tangan Jimin untuk pergi meninggalkan sepedanya dan masuk ke tengah taman. Menunjuk ke setiap dagangan yang terdapat disana. Banyak makanan, jajanan anak-anak, balon dan hal lain yang belum pernah Taehyung lihat. Sepertinya Jimin mulai paham dengan maksud Taehyung berhenti ketempat ini. “apa ini pertama kali kau ke taman Taehyung-ah?” tanya Jimin.

“Aku selalu pulang lebih cepat dan tidak pernah berhenti di suatu tempat yang banyak pengunjung seperti ini. Wah. Lihat banyak sekali jajanan Jiminnie” beberapa lembar won Taehyung keluarkan dari dompetnya dan berjalan mendekati pedagang balon berada. Membeli 10 balon sekaligus mengejutkan Jimin tentu saja. Ketika pedagang itu tidak memiliki kembalian pada won yang Taehyung berikan. Ia mengatakan dengan lembut agar tidak terlalu memikirkan hal itu. Wajah bahagia pedagang itu sangat terlihat. Jimin tersentuh dengan kebaikan Taehyung atau bisa dikatakan kepolosan sahabatnya itu. Entahlah. “apa yang ingin kau lakukan dengan balon sebanyak itu?” Ucap Jimin.

Taehyung menyerahkan seluruh balon itu kepada Jimin tanpa mengatakan apa-apa. Ia pergi lagi membeli makanan kecil dengan won yang tidak lagi memiliki kembalian. “kau akan cepat bangkrut jika membeli sesuatu dengan uang besar terus” ledek namja mungil itu pada Taehyung.

“uang tidak akan bisa membelikan kebahagiaan Jiminnie, apa aku benar? Bukankah itu alasan mengapa kau hidup sederhana tanpa memikirkan orang sekelilingmu mengatakan hal yang menyakitkan kepadamu?”

Jimin mengedipkan kedua bola matanya secara berulang-ulang. Tarikan diterima Jimin lagi, kini Taehyung mengajak namja itu membeli makanan kapas yang digemari anak-anak. Saat mengantri seorang anak kecil memegang kemeja Jimin dan bertanya apakah Ia boleh meminta salah satu balon. Jimin melirik kearah Taehyung yang mengizinkan sebelum Jimin bertanya. Ia memberikan salah satu balon itu, dan tidak beberapa lama datang lagi anak lain bersama teman-temannya. Mereka menginginkan hal yang sama yaitu balon Jimin yang Taehyung berikan. Sampai pada 1 balon sisa terakhir, Jimin melepaskan hingga balon itu terbang tinggi dari mereka. Jimin tertawa geli dengan senyuman manis menampilkan gigi  yang tidak terlihat rapih namun tetap cantik. “kenapa kau menerbangkannya?” bingung Taehyung.

“aku takut jika diminta lagi, itu akan menjadi harapanku agar tidak diminta lagi.”

“harapanmu?”

“Nde. Harapanku agar tetap bisa terbang bebas seperti balon yang terbawa angin” harapan itu mengingatkan Taehyung lagi akan perjodohan yang akan Jimin alami bersama Jin. Mereka memandang ke balon yang semakin terbang tinggi dan tidak dapat digapai seorang pun. Waktu terus berlalu, Jimin memandang kearah arloji yang menandakan sudah jam sore. Ia mengajak Taehyung agar pulang, dengan sedikit kecewa Taehyung menurut. “apa kita akan kesini lagi berdua?” Taehyung masih menatap kearah tengah taman yang masih ramai.

“kita akan kesini lagi saat pulang sekolah nanti, lagipula kau bisa mengajak orangtuamu kesini”

“mereka tidak akan menyukainya, hanya aku dan halbeoji yang mungkin akan menyukai tempat semacam ini” wajah sedih Taehyung tidak lagi terlihat saat Jimin menggenggam tangan Taehyung yang menggantung. “kalau begitu aku akan menemani mu ketempat ini lagi” Ucap Jimin.

Taehyung dan Jimin akhirnya meninggalkan taman dengan canda-tawa.

.
[ Ruangan Kim Hanshin ]
Jin tiba diruangan sesuai perintah Tuan Kim. Ia duduk dengan tenang menunggu Tuan Kim yang mungkin sedang berada di kamar kecil. “kau sudah datang?” suara itu terdengar dari balik pintu kamar kecil yang terbuka.

“Nde”

Tuan Kim duduk di kursi kepemimpinannya, menunjukan sebuah berkas yang terdapat tulisan ‘Warisan’. “aku sudah menuliskan namamu dan saudaramu dalam warisan ku, silahkan kau periksa agar lebih percaya” Tuan Kim menyerahkan berkas tersebut pada Jin yang langsung membaca isi di dalam. “Jimin sudah berada di Seoul, aku ingin kau mengantar jemput namja itu kesekolah yang sama denganmu, berikan kesan yang baik pada Jimin” sebuah kartu nama hotel Tuan Kim berikan.

“Halbeoji! Apa kau tidak berfikir lagi? Ini didikan yang tidak benar”

Tuan Kim melirik sedikit kearah Jin yang lesu, “jika kau tidak ingin melakukan apa yang perintahkan, maka aku akan membatalkan berkas warisan itu. Kini terserahku, kau akan membuat hidupmu dan saudaramu menjadi gelandangan tanpa sedikitpun warisanku” lanjut Tuan Kim bekerja menandatangain setiap berkas penting yang ada di meja. Usai pembicaraan mereka Jin diizinkan keluar. Dan saat itu juga Ia mendapati Taehyung baru saja pulang dengan taxi.

Jin menunggu Taehyung untuk menegur dongsaengnya itu, “darimana saja kau? Taetae ini sudah sore, kenapa kau baru pulang?” cemas Jin.

“aku habis pergi dengan temanku hyung” wajah dengan senyuman idiot itu tampak terlihat. Pertanyaan Jin menghentikan kepergian Taehyung yang bergegas menuju kamar, “apa kau pergi dengan teman baru di kelas mu itu?”

“Nde hyung” Taehyung kembali menghadap ke arah Jin.

“dia berpengaruh buruk padamu,  tidak seharusnya kau menaiki sepeda pulang sekolah. jika Eomma dan Appa tau mereka akan memarahimu Taetae! Terlebih lagi arah rumah dia dan rumah mu berlawanan arah! Sekarang kau malah pulang sore hari, kau tidak tau bahaya dunia luar. Kau mungkin bisa dimanfaatkan orang-orang yang tidak tau diri diluar sana”

“hyung! Aku bukan anak kecil yang bisa dimanfaatkan atau yang perlu kau lindungi lagi. Aku bebas memilih berteman dengan siapapun yang menurut ku itu baik. Pandangan hyung terhadap namja itu salah”

Jin menatap tajam dan melangkah mendekati Taehyung, “kau lihat sekarang? Kau bahkan berani berteriak padaku”

“Miane” singkat Taehyung. Ia pun meninggalkan Jin tanpa kata-kata lagi. Namjoon yang sejak tadi memperhatikan pertengkaran dari lantai 2 hanya diam. Tidak ingin membantu Jin ataupun Taehyung dalam perdebatan mereka. Namjoon mengerti alasan mengapa Jin begitu melindungi Taaehyung, itu karena Ia memegang penuh posisinya sebagai anak pertama. Apapun yang dongsaeng lakukan itu semua tergantung akan seorang hyung dalam mendidik. Terlebih lagi orang tua mereka sibuk dengan urusan, dan yang lebih bisa Namjoon pahami. Jin harus menikah dengan seorang namja untuk perjodohan gila yang Tuan Kim janjikan dengan sahabat lamanya.

Jin masuk kedalam kamar, merenungkan diri dengan langkah apa yang akan Ia alami. Ada seorang yeoja yang rela Ia hamili agar perjodohan ini tidak berlangsung. Tapi tetap saja Jin merasa itu bukanlah cara yang bagus untuk menyelesaikan sebuah masalah. Kartu nama hotel Ia pandangi lalu membacanya, “sebuah hotel berbintang”. Jin menidurkan diri dan berharap besok bisa lebih baik.

.

Taehyung yang berada di kamar hanya senyum-senyum sendiri mengingat kencan pertamanya dengan Jimin. Ia menyukai kepribadian yang dimiliki namja mungil itu. “seandainya halbeoji yang menjodohkanku dengan Jimin, mungkin aku tidak akan menolak. Walaupun aneh, tapi aku jadi penasaran bagaimana tinggal di atas atap bersama Jimin dalam status pernikahan” bayangan demi bayangan yang tidak mungkin terjadi difikrikan Taehyung. Tawa kecil terus terukir, memberikan kesan gila bila seseorang menyadari tingkahnya kali ini.


To be continue...

Comments

  1. Cannot wait for jinmin moments..please fall in love quickly~~ahaha..hwaiting authornim

    ReplyDelete
  2. Terima kasih kerana update..i really love u too..๐Ÿ˜๐Ÿ˜..hehe

    ReplyDelete
  3. are you jinmin hard shipper ♡๐Ÿ˜sangat sulit menemukan seseorang yang menyukai jinmin xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeah..jiminie is my bias๐Ÿ˜๐Ÿ˜..memang begitu,susah nak jumpa jinmin shipper..i glad,i found you..hee

      Delete

Post a Comment

Popular Posts