Devil Without You Chapter 4





Mata burung gagak itu memancarkan cahaya merah yang seakan merenggut jiwa namjoon yang sejak tadi melihatnya. Pukulan diberikan kearah Jin yang belum berhasil menemukan buku cleo. “Seulki apa yang—” tatapan Namjoon seperti kerasukan. ‘Kim Namjoon’ bisiknya pelan.


*****
.
.
 [ Chapter 4 ]
.
.

mendengar keributan dari salah satu ruangan yaitu perpustakaan, mengakibatkan penjaga sekolah harus memeriksa. Sedangkan Jin masih berusaha menyadarkan Namjoon yang terus melempari barang kearahnya. “yak Seulki! Sadarlah kau bukan dirimu” teriak Jin sampai pada Ia mendorong salah satu rak yang langsung mengapit tubuh Namjoon. “Kim Namjoon!” rasa menyesal karena telah menyakiti Namjoon membuat Jin gelagapan. Temannya itu tidak sadarkan diri tepat ketika penjaga sekolah datang.

Namjoon dilarikan kerumah sakit sedangkan Jin harus menjelaskan tentang kegiatan mereka di sekolah saat malah hari. Kerusakan pada perpustakaan sekolah, mengharuskan Jin mengganti semua. Keesokan pagi orang tua Jin yang berada di luar negeri tidak datang memenuhi panggilan sekolah dan hanya menyerahkan cek tidak lupa surat permohonan maaf. Bayaran yang tidak ternilai diberikan secara cuma-cuma kepada sekolah Jin.

"Mohon maaf atas kesalahan Tuan Muda sekali lagi" tunduk kepala pelayan memberi hormat.

Jin di berikan punishment selama 2 minggu  untuk tidak mengikuti kegiatan sekolah semenjak kejadian ini. Yoongi yang berada di ambang pintu kelas memberanikan diri mendatangi Jin yang masih berantakan karena tidak diizinkan pulang sejak semalam. “kau benar-benar nekat melakukan hal ini Jin-sshi. Kau bisa melakukannya siang hari bukan? Bahkan temanmu terluka, aku tidak mengerti bagaimana bisa kalian menghancurkan perpustakaan hanya untuk mencari buku konyol itu!?”

tanpa membalas, Jin memberikan pesan sebelum pergi “Aku tidak kesekolah selama 2 minggu ini, kalau kau ada waktu. Aku ingin kau mencari buku itu lagi dan membaca apa isi dari buku itu di perpustakaan saja. Setidaknya aku bisa tenang kalau sudah mendengarkan apa yang nanti kau kabarkan dari buku itu, aku minta bantuanmu”

yoongi mengepalkan tangannya tidak yakin menerima permohonan Jin. Tapi sentuhan hangat yang tidak pernah Yoongi rasakan seakan benar-benar membutuhkan pertolongannya kali ini. Jin yang ia sukai, kagumi, bahkan terkesan cintai kini memegang kedua tangannya yang mengepal sempurna. Kepala Yoongi dibelai lembut sebelum Jin pergi meninggalkan sekolah dengan pandangan aneh seluruh murid yang mengarah pada namja tinggi itu.

Saat jam istirahat namja cantik bernama lengkap Min Yoongi itu menyempatkan pergi ke perpustakaan. Tapi sayangnya masih dalam perbaikan dan tidak di operasikan untuk Murid-murid beraktivitas.

*****

jungkook menghubungi Jin berkali-kali tapi tidak diangkat. Perasaan namja itu tidak tenang sejak tadi. Jimin yang biasa menenangkan Jungkook juga tidak masuk sekolah. Ia benar-benar sendirian bingung harus melakukan apa. Usai sekolah Jungkook memutuskan pulang beristirahat. Dalam perjalanan kepala namja cantik itu terasa sakit. Darah segar keluar dari hidung, mengejutkan supir yang memperhatikan majikannya itu dari balik spion dalam mobil. “tuan.. anda tidak apa-apa?” 

“aku tidak apa” Jungkook mengambil beberapa lembar tisu untuk menghapus darah dihidungnya.

*****

Hoseok mengobati luka yang Ia dapatkan selepas bertarung dengan namja asing yang berstatus bawahan penjaga waktu. Mereka berasal dari dunia yang memang bukan ditinggali manusia. Maka itu setiap luka yang mereka dapatkan tidak akan pulih dengan cepat, kecuali bila manusia biasa melukai maka luka itu akan memulih sendiri. “Arrghhh!” hoseok menggigit kain agar teriakannya tidak dapat didengar Jimin. ia bersembunyi di ruang bawah tanah tempat Ia menyembunyikan wadah manusia Taehyung dari buruan penjaga waktu. Masa pemulihan berlangsung sangat lama. Tidak mungkin Hoseok keluar dalam keadaan terluka yang akan membuat Jimin khawatir nanti.

Di kamar dengan cat biru, Jimin baru saja terbangun. Badannya terasa pegal karena terlalu banyak tidur. Ia berjalan keluar kamar untuk mengambil segelas minuman. Selama perjalanan menuju dapur rumahnya sangat sepi. “hyung kemana?” ia tidak menemukan keberadaan hoseok. Selepas meredakan rasa haus di dapur, Ia memanggil Hoseok lagi dengan mengitari rumah. “hyung… hyung”.

Mendengar Jimin sedang memanggil dirinya, hoseok mengenakan pakaian dan bersiap-siap mengatur nafas. Ia muncul didepan Jimin dalam keadaan berkeringat. “kau mencariku Jiminnie?”

“apa yang terjadi denganmu hyung? Kenapa kau banjir keringat seperti ini?”

hoseok mencari alasan, “aku hanya sedikit bermimpi buruk, kau beristirahatlah lagi”

“kau yakin? Aku sudah merasa pegal beristirahat terus menerus, seperti boneka saja. Aku akan pergi ke mini market berbelanja sekalian menghirup udara segar”

“mini market?” hoseok berfikir dengan kondisinya sekarang, tidak mungkin melindungi Jimin dari bawahan penjaga waktu itu bila datang lagi. “bagaimana kalau belinya nanti saja. Aku sedang tidak bisa menemanimu ke mini market sekarang”

“aku akan pergi sendiri hyung” kata Jimin dengan mengenakan mantel pendingin.

hoseok merintih kesakitan untuk menghentikan kepergian Jimin keluar. Karena cemas, namja mungil itu memapah Hoseok ke kamar agar dapat beristirahat.  “hyung mengatakan tidak apa-apa. Apa hyung berbohong padaku?” Jimin mencoba menyentuh bagian luka di lengan Hoseok yang tertutupi kemeja. Tapi Hoseok menghentikan itu sebelum terjadi, “bisakah kau menjaga hyung saja dan tidak pergi keluar? Hyung sepertinya kurang sehat sekarang” tangan Hoseok memegang jari jemari mungil Jimin yang akan menyentuhnya.

“aku akan menjaga hyung” ucap Jimin dengan duduk disamping Hoseok yang terbaring.

.

.

[ Kediaman Kim ]

jin tidur di kamar dengan keadaan gelisah. Keringat mengalir namun tidak sanggup membuka kedua matanya. Selimut di genggam begitu kencang menahan rasa sakit. Bahkan dinginnya AC tidak mengurangi keringat yang terus-menerus keluar dari setiap lapisan kulit Jin. “Jiminnnn!” teriakan terdengar sampai kelantai bawah. Namja itu mengacak rambutnya kesal akibat tidak tenang untuk tidur. Ia memutuskan keluar rumah mencari udara segar di malam hari. Mengendarai mobil dengan tenang dan menikmati pemandangan. Memakirkan kendaraan di salah satu Café yang mungkin akan menjadi tempat Ia menenangkan diri.

Dari jarak pintu masuk, Jin sudah menemukan Namjoon sedang asik dengan yeoja-yeoja cantik di setiap sisi. Kedatangan Jin pertama kali di Café menjadi mimpi indah bagi Namjoon. “Seulki! Asih tumben sekali kau kesini?! Duduklah” pinta Namjoon dengan membiarkan yeoja-yeoja itu mulai mendekati Jin.

“kau tau kan Seulki?! Aku tidak terbiasa dengan yeoja?” Jin mengharapkan Namjoon menyingkirkan teman-temannya. “apa kau seorang pecinta namja? Sampai kau tidak tertarik dengan kami?” goda salah satu yeoja dengan mencolek dagu Jin.

“aku tidak suka yeoja murahan seperti kalian”

“pedas sekali namja ini!? Biarkan aku menamparnya” tamparan siap mendarat di pipi Jin. Tapi Namjoon tidak akan membiarkan hal itu melukai sahabatnya. “pergilah. Biarkan kami berdua” perintah Namjoon yang langsung dipatuhi karena selalu datang untuk membayar mereka.

Namjoon meminta Jin untuk duduk setelah beberapa yeoja bayarannya pergi. “ada apa Seulki, kau mencariku?”

“bagaimana keadaanmu? Maaf soal kejadian diperpustakaan itu, aku sangat menyesal”

mendengar itu Namjoon setengah tertawa, “apa kau Jin? Haha tenanglah aku tidak apa-apa. Ini hanya luka ringan dan bahkan aku hanya dirawat beberapa jam di rumah sakit” Ia dapat melihat wajah Jin yang lega, “lalu apa kau masih tidak bisa beristirahat dengan tenang?”

“Nde. Aku sudah mulai gila sepertinya berfikiran sesuatu yang di luar akal manusia mulai ku anggap nyata”

“buku itu tentang Museum cleo kan? Bagaimana kalau kita langsung datang ke Museum itu, dan membayar tourguide untuk menceritakan secara detail tentang Museum aneh itu” Namjoon memberikan ide yang luar biasa, dan tidak Jin fikirkan sejak awal. Untuk apa mencari buku jika ada tourguide Museum yang bisa Ia bayar untuk menjelaskan rasa penasarannya. “kalau begitu kita akan pergi sekarang?!” Jin berdiri mengusulkan hal yang bodoh lagi.

“kau gila! Tidak ada Museum yang buka jam segini, kau bersantailah. Aku akan menemanimu Seulki. Kau bisa mengandalkanku” Namjoon menuangkan minuman agar Jin menikmati malam ini dengan tenang. Mereka pun bersulang.
.

.
jin-sshi selamatkan aku’
.

.
jin membuka kedua matanya saat cahaya terang masuk dari balik jendela. Kepalanya sangat berat, namun Maid sudah datang membangunkan. Teh hangat tersedia di meja samping tempat tidur. “Tuan muda, tuan namjoon sudah menunggu anda di ruang makan. Pesannya jika anda tidak segera turun dan bersiap-siap maka Ia akan pulang dan tidak jadi mengantar anda ke Museum” Maid itu terkejut, saat Jin langsung melompat dari ranjang dan bergerak cepat untuk bersiap-siap. Pakaian yang akan dikenakan mereka siapkan sebelum Jin keluar dari kamar mandi.

Namjoon yang menunggu dan selesai menyantap sarapannya mendapati Jin yang datang. Mengambil selembar roti yang disajikan dengan selai kacang kesukaannya. “kau benar-benar tidak kuat alcohol, menyedihkan sekali namja sepertimu” ledek namjoon. Tapi Jin hanya diam dengan kesadaran yang masih tidak stabil. “apa kau kurang sehat? Setau ku semalam kau hanya minum 2 kali bagaimana mungkin kau bisa semabuk ini?!” tawanya semakin kencang.

“diamlah” Jin memandang arloji di lengan kiri tangan. Semakin siang, Ia pun mengajak Namjoon untuk segera pergi ke mobil. Tidak ingin melewatkan waktu Jin mengenakan mantel dan mobil mereka meninggalkan halaman. Perjalanan mereka memakan waktu panjang. Setidaknya setelah ini Jin berharap hidupnya akan kembali normal seperti semula. Sesampainya pada Museum, Namjoon membayar tiket dan meminta staff Museum untuk memberikan tourguide memasuki Museum cleo. “selamat datang di Museum Cleo, saya Kim shin gyu pemandu tour kalian kali ini” tatapan tajam dengan mata biru menambah cantik yeoja yang menjadi pemandu mereka.

Mereka mulai memasuki pintu pertama Museum, yeoja itu menjelaskan dengan sangat detail. Tidak ada keanehan akan hal itu, lukisan serta pahatan patung yang memang berasal dari ciptaan tangan ahli. “ini adalah patung perceus dan medusa, dalam mitologi perseus diperintahkan polydectus untuk membunuh medusa dan membawakan kepala medusa padanya. Medusa yaitu gorgon sakti yang bisa membuat orang apapun yang memandang matanya akan berubah menjadi batu. Perceus berhasil membawa kepala medusa namun polydectus mengkhianatinya. Ia pun merubah perceus menjadi batu dengan kepala medusa tersebut. Patung ini menyimbolkan sebuah pengkhianatan” jelas pemandu tersebut, dan berpindah-pindah menerangkan apa yang Jin dan Namjoon ingin ketahui.

.

Flashback On

Kehilangan seseorang yang dicintai. 

Ia tidak pernah menyangka kalau kekasihnya itu membutuhkan pengobatan tanpa memberi tahu, bahkan Ia menduga bahwa sang kekasih telah berselingkuh duluan.

namun apalah daya, ketika hati yang tidak dipercaya menemukan kepercayaan pada orang baru?

'Aku pergi ke Amerika untuk berobat, aku mohon berikan aku kesempatan untuk mengubah perasaanmu agar kembali kepadaku'

Ketika sang kekasih telah kembali dan semakin berada dalam keadaan kritis, hati tidak mampu berbohong bahwa cinta telah dimiliki orang lain. 

Boy In Luv Fanfic

Flashback Off

Tiba pada pusat Museum, dimana ruang tengah itu terdapat patung manusia besar dengan sayap hitam. Jantung Jin terpompa lebih cepat dari biasanya lagi. Suara sang Tourguide tidak terdengar, bahkan pandangan Jin mulai kabur. Namjoon mengajak Jin bicara dan itu bisa mempertahankan kesadarannya sampai di penghujung tour mereka. “Ini adalah perpustakaan Museum Cleo, tempat terakhir dari kunjungan Tour kalian. Jika kalian ingin mengetahui lebih dalam tentang Sejarah Museum kami, kalian bisa membacanya disini” penjelasan itu sekalian menutup Tour mereka.

Jin dan namjoon memasuki perpustakaan yang Shin Gyu persilahkan untuk pengunjung masuki. Membuka beberapa buku yang mereka tarik dari deretan buku Classic. “sebenarnya kau mencari apa dari Museum ini? Kenapa kau begitu penasaran dan jadi suka membaca buku seperti ini Seulki?” Namjoon mengganti setiap halaman buku dengan malas.

“aku ingin mengklarifikasi gangguan yang aku dapatkan dari mimpiku dan kejadian-kejadian aneh yang diluar akal manusia. Maka itu aku akan menepis pertanyaan konyol yang membuatku penasaran akan Museum aneh ini” hampir 3 jam berada di perpustakaan Museum Cleo, Namjoon mulai lelah dan muak dengan bau buku. Ia memutuskan untuk pergi keluar mencari minuman. Banyak buku tergeletak di meja yang Jin gunakan. Membaca buku yang Ia kumpulkan namun tidak ada yang memuaskan. Sampai sekarang Jin belum menemukan jawaban yang dirinya cari tentang patung besar yang berada di ruangan tengah itu.

“dibeberapa bagian ada yang mirip dengan kisah di mimpiku namun disetiap buku yang aku baca tidak ada satupun yang menjelaskan tentang asal usul patung besar itu, bagaimana mungkin? Patung itu bagian dari Museum, kenapa tidak ada yang menjelaskan tentang patung itu. Bukankah kata tourguide ada buku yang membahas patung itu tapi bagian terakhirnya hilang. Dimana aku bisa menemukan buku itu?” Jin mengacak rambut frustasi. “aku jadi semakin penasaran” Berjalan-jalan sebentar mengitari Museum Cleo dan menemukan sesuatu yang aneh pada salah satu deretan buku classic. Jin menarik buku itu  karena memiliki perasaan aneh. Membuka buku tersebut tapi tidak ada tulisan didalamnya. Hanya lembaran kosong yang terdapat di dalam buku. Semakin penasaran Jin membuka buku itu dengan cepat dan berulang-ulang. “Appo!” Tidak tau hal apa yang terjadi, jari telunjuk Jin terluka tiba-tiba dan mengeluarkan darah.

Buku yang dipegangnya terjatuh. Lalu terbuka pada halaman pertama. Darah Jin menetes ke buku yang langsung meresap darahnya tak tersisa. Saat itu Jin menemukan tulisan yang keluar dari dalam buku dengan gaya hangul yang aneh. “milikku akan selamanya menjadi milikku” bacanya, jin mulai tidak mengerti. Keanehan muncul lagi dari buku yang Ia temukan.

Tepukan seseorang membuyarkan lamunan sementara Jin, Tourguide bernama Shin Gyu memberi tahu bahwa perpustakaan itu akan ditutup. Dengan kecewa Jin meletakan buku pada rak. Meninggalkan perpustakaan dengan keheningan dari tatapan shin gyu. Namjoon membawa minuman dan menemui Jin yang telah berada di luar perpustakaan. “apa kau sudah selesai menyelesaikan masalahmu?” tanyanya dengan sebotol minuman di tangan kanan.

“aku sudah selesai, ayo kita pulang” pinta Jin meninggalkan Museum di ikuti Namjoon.


*****


jungkook dan Jimin membereskan peralatan sekolah untuk pulang kerumah. Namja cantik itu telah kembali ceria saat Jimin telah mengisi kekosongan mejanya kemarin. Bergelayutan terus-menerus membuat Jimin merasa senang, karena masih ada yang sangat memperhatikan dirinya seperti Jungkook. “bisakah kau tidak melakukan hal kemarin? Membiarkan aku sendirian membuatku sedih” lesu Jungkook menceritakan kegiatannya saat Jimin tidak masuk. Itu semua mengukir senyum lebar, karena Jungkook begitu lucu seperti mengeluarkan Aegyo saat mempoutkan bibir miliknya.

Jimin yang memandangi Jungkook bercerita mengambil tisu cepat dan meletakan tisu itu pada hidung temannya itu. “Jungkookie gwenchana?” Tanya Jimin takut.

“Ah.. ini hanya mimisan biasa, aku tidak apa-apa Jiminnie—”

“biasa? Aku baru tau kalau kau mimisan seperti ini? Apa kau kurang istirahat? Apa kau suka begadang atau keluar malam? Biar aku menghubungi Jin untuk menjemputmu.. ponselmu manammph?” ocehan Jimin dihentikan Jungkook yang langsung menutup mulutnya dengan tangan. Jungkook tersenyum sangat cantik, Ia senang dikhawatirkan. “terimakasih sudah mengkhawatirkanku Jiminnie, aku tidak tau perasaanku ini benar atau tidak tapi sepertinya yang perlu dikhawatirkan adalah dirimu sendiri” lanjut Jungkook. Perkataan itu membungkam Jimin.

Sampai pada gerbang sekolah mereka berpisah karena jemputan Jungkook telah menunggu. Jimin melanjutkan perjalanan pulang sendirian, ia tidak menyadari seseorang yang mengikuti dibelakang. Seorang namja yang tidak berhasil membawa Jimin sebelumnya.

Mobil namjoon melewati sekolah Bighit Highschool tempat Jungkook bersekolah. Jin mengamati sosok namja mungil yang sedang diikuti namja asing yang kemarin menghilang bersama Jimin dari balik tembok. Saat diketahui namja mungil itu adalah Jimin lagi. Pasti ada niat jahat yang akan melukai sahabat dari kekasihnya itu. Jin meminta namjoon meminggirkan mobil dan menjemput namja mungil yang sedang berjalan kaki di pinggir jalan. Mengetahui itu namja asing itu menyembunyikan diri dibalik pohon.

Jin keluar dari mobil, menarik Jimin agar mau diantar. Namja asing itu memperhatikan Jin yang terus memaksa Jimin agar masuk ke mobil. Kehadirannya telah diketahui, “Kim Seok Jin” senyuman terukir sinis.

Tidak mengerti apa-apa Jimin hanya menuruti perintah Jin. “apa yang terjadi?” Jimin bertanya lugu. Sama seperti namja mungil itu, namjoon juga ikut tidak mengerti dengan sikap temannya. Mobil meninggalkan sekolah dengan membawa Jimin. “Jin-sshi ada apa sebenarnya, kenapa kau memaksaku masuk?” pertanyaan itu terlontar lagi.

“ada namja yang kemarin mengikutimu lagi, apa kau ingat?” jin memperhatikan wajah mungil yang terkesan manis milik Jimin. halus? Sepertinya sangat halus bila Jin bisa menyentuh kulit bayi itu. Tangan yang mungil membutuhkan genggaman perlindungan. Dan Jin sangat ingin menjaga itu semua agar tetap bisa Ia kagumi. ‘kenapa aku seperti telah mengenal Jimin sangat lama’ batin itu berbicara.

“aku tidak melihat seseorang mengikutiku” balas Jimin bingung, Namjoon ikut menimpali kalau dirinya juga tidak melihat ada orang selain namja yang diajak Jin. “aku juga tidak melihat siapa-siapa”

“apa kalian serius mengatakan itu? Sepertiya saat kalian akan melihatnya dia sudah lebih dulu bersembunyi”

namjoon mengemudi dengan santai dengan sesekali melirik kearah spion tengah. Mengamati namja mungil yang menjadi kenalan Jin. “apa dia kenalanmu Seulki?” Namjoon berbisik pada Jin.

“dia teman sekolah Jungkook”

“Ohh” singkatnya mengerti.

Kecepatan mobil yang Namjoon kendarai berubah menjadi cepat. Ia tidak dapat menginjak rem yang sepertinya tidak berfungsi. Mereka bertiga panic. Sebisa mungkin namjoon menghindari mobil yang akan dirinya tabrak. “apa yang terjadi!! Aku tidak bisa mengendalikan mobilkuu!!” teriak Namjoon dengan masih berusaha mengimbangkan pergerakan kemudi mobilnya.

Namja asing bawahan penjaga waktu tertawa geli menyaksikan kejadian yang menjadi ulahnya. Kesal karena Jin menghalangi dirinya membawa  Jimin.. membuat sifat kekanak-kanakan namja itu keluar. “jangan panggil aku Park Chanyeol jika tidak bisa menyelesaikan tugasku dengan baik” ucapnya benci.
.
.
“hyung”
.
.
suara Jimin bergema, dapat terdengar Lucifer yang terbelenggu. Ia tau kalau namja yang dicintainya sedang membutuhkan bantuan. Sinyal kekuatan diberikan kepada Hoseok, dan pemulihan pada luka bawahannya itu berlangsung cepat. Sepertinya kesalahan Hoseok kembali dilakukan dengan mengembalikan Jimin pada sekolah. Ini tidak akan mampu membuat Hoseok tenang selama bawahan penjaga waktu datang untuk mengejar Jimin. kegelapan menelan Hoseok untuk membawa namja itu lebih cepat pada lokasi Jimin yang membutuhkan pertolongannya.

Benar dugaan Hoseok, bawahan penjaga waktu itu menjadi alasan kesulitan yang dialami Jimin. ia mengeluarkan sabit yang menjadi ciri khas seorang Iblis, matanya memerah menantang Chanyeol. Awalnya Chanyeol ingin sekali membunuh Hoseok. Tapi kekuatan Lucifer seakan-akan menyatu dengan kekuatan Iblis didepannya itu. Sepertinya Hoseok berada dalam lindungan Iblis tidak tau diri yang terbelenggu. Karena tidak ingin mati sia-sia Chanyeol pergi menghilang membiarkan Hoseok menyelamatkan Jimin.

Hoseok mengendalikan mobil yang sudah di sihir. Saat semua merasa aman, Ia menarik nafas lega dan merubah diri menjadi manusia. Mobil yang Namjoon kendarai telah berhenti mendadak. Ketegangan pun berakhir. Pintu belakang terbuka dari luar, namja yang Jin ketahui menjadi hyung Jimin mengajak namja mungil itu keluar. “hyung?” heran Jimin dengan kedatangan Hoseok.

Jin dan namjoon ikut keluar dari mobil. Salah satu tangan Jin mencegah Jimin untuk pergi. Amarah Hoseok Ia control agar tidak melukai Jimin ataupun namja yang menjadi saingan Lucifer. “lepaskan tangan Jimin” tegur Hoseok.

“hyung. Izinkan kami mengantarmu dan Jimin”

keteguhan Jin, tidak direspon baik “KAU HANYA AKAN MELUKAINYA!” mata merah itu keluar saat Hoseok marah, namun hanya Jin yang dapat menangkap moment itu.

To be continue…





Comments

  1. Wahh..thank u for updating authornim..but i still dont understand the plot yet..maybe i will in next chapter..thank u sooooo much authornim..so,chanyeol itu jahat sih?interesting

    ReplyDelete
    Replies
    1. hey.. thanks for comein again ;) have you read boy in luv jinmin ver. or boy in luv s2? this story continue that fanfic.. hehe~

      Delete
    2. Oh..i already read that both masterpiece..that why i love your fanfic..hehe~~so,fanfic ini sambungan dari BIL?really?aku tidak tahu itu..menariknya..tp,tiada demon dalam BIL 😦😦

      Delete
    3. nah. nanti akan kita bahas mengapa tidak ada demon dalam bil. mungkinkah kmu ingat in the end bil season 2. semua kembali terulang.. waktu berputar? haha misteri itu akan diselesaikan ;) we will see it later ,~

      Delete
    4. Ahh,i remember that..wahhh..that really interesting..kamu mmg author yang hebat sih..boleh fikir sebegitu..thank you for the reply and hwaiting~~i will waiting for next update *grin* 😁😁😁

      Delete
  2. fuh! akhirnya update. Kasihan hoseoK. Kuatla utk jimin

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha. thanks for comein again. really so glad* sorry if i took along ;)

      Delete

Post a Comment

Popular Posts